KATA PENGANTAR
Puji syukur dan rahmat dari Allah S.W.T, karena berkat Rahmat-Nya saya diberikan kesehatan dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan
tugas ini. Dalam makalah ini saya menghadirkan pengayaan bahan materi kuliah yang
berjudul Metode Penitian Sosial atas dasar materi yang sudah disampaikan.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi para pembaca.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Keterbatasan sumber merupakan penghambat dalam lengkapnya makalah ini
namun sebagian besar saya menitik beratkan objek kajian berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh para ahli yang umumnya menjadi materi kuliah bagi
mahasiswa.Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Medan, Mei 2013
Penyusun,
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………………………………………………………… 1
Daftar Isi ………………………………………………………………… 2
Bab I Pendahuluan ………………………………………………………… 3
I.1. Latar Belakang ………………………………………………… 4
I.2 Maksud dan Tujuan ………………………………………… 4
Bab II Rumusan Masalah ………………………………………………… 5
Bab III Pembahasan ………………………………………………………… 6
A. Penelitian
Sosial ………………………………………………… 6
B.
Karakteristik Metode Penelitian Sosial ………………………… 14
C. The Foundation Of Social Theory ………………………………… 16
D. Proses Penelitian ………………………………………………… 18
E.
Dua Sistem Logis ………………………………………………… 19
F. Gejala Sosial ………………………………………………… 20
G. Unsur-Unsur
Penelitian Sosial …………………………………… 21
H. Jenis-Jenis Metode Penelitian Dan Macam-Macam
Metodologi
Penelitian ………………………………………… 21
I. Variabel ………………………………………………………… 24
J. Hipotesis Penelitian Sosial ………………………………………… 27
Bab
IV Penutup ………………………………………………………… 29
a. Kesimpulan ………………………………………………………… 29
b. Saran ………………………………………………………… 29
Daftar Pustaka …………………………………………………………………. 30
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia
adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan
manusia lain. Sebagai akibat dari hubungan yang terjadi di antara
individu-individu (manusia) kemudian lahirlah kelompok-kelompok sosial (social
group) yang dilandasi oleh kesamaan-kesamaan kepentingan bersama. Namun bukan
berarti semua himpunan manusia dapat dikatakan kelompok sosial. Untuk dikatakan
kelompok sosial terdapat persyaratan-persyaratan tertentu. Dalam kelompok
social yang telah tersusun susunan masyarakatnya akan terjadinya sebuah
perubahan dalam susunan tersebut merupakan sebuah keniscayaan. Karena perubahan
merupakan hal yang mutlak terjadi dimanapun tempatnya.
Cara
yang paling sederhana untuk mengerti perubahan sosial (masyarakat) dan
kebudayaan itu, adalah dengan membuat rekapitulasi dari semua perubahan yang
terjadi di dalam masyarakat itu sendiri, bahkan jika ingin mendapatkan gambaran
yang lebih jelas lagi mengenai perubahan mayarakat dan kebudayaan itu, maka
suatu hal yang paling baik dilakukan adalah mencoba mengungkap semua kejadian
yang sedang berlangsung di tengah-tengah masyarakat itu sendiri.
Penelitian sosial juga dapat digunakan sebagai penyelidikan-penyeldikan yang dirancang untuk menambah
ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial, atau praktik-praktik sosial. Istilah
sosial ini menunujuk pada hubungan-hubungan antara, dan di antara, orang-orang,
kelompok-kelompok seperti keluarga, institusi (sekolah, komunitas, organisasi,
dan sebagainya), dan lingkungan yang lebih besar.
Untuk itu
dalam makalah ini saya akan menjelaskan lebih detail lagi mengenai metode
penelitian sosial.
I.1. Latar
Belakang
Untuk memperkuat analisis mengenai
penelitian yang berkaitan dengan sosial agar mampu untuk memecahkan persoalan
masyarakat baik yang berkaitan dengan sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang
secara umum tidak dapat terhindarkan dari kehidupan masyarakat. Metode
Penilitian Sosial merupakan salah satu solusi yang harus dikembangkan oleh
semua kalangan agar mampu menutupi semua persalahan tersebut, guna terciptanya
masyarakat yang berkompeten dalam segala hal agar dapat secara mudah memecahkan
persoalan dalam masyarakat. Penelitian sosial dapat digunakan sebagai penyelidikan-penyelidikan yang
dirancang untuk menambah ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial, atau
praktik-praktik sosial. Istilah social ini menunjuk pada hubungan-hubungan
antara dan diantara, orang-orang, kelompok-kelompok seperti keluarga, institusi
(sekolah, komunitas, organisasi dan lain sebagainya), dan lingkungan yang lebih
besar.
I.2. Maksud
dan Tujuan
Maksud dan tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk memecahkan masalah social (eksploratif), definisi
eksploratif itu sendiri adalah penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh
pengetahuan lebih banyak, terutama sumber-sumber alam yang ada di tempat itu. Dari banyaknya permasalahan yang timbul maka dengan
hadirnya makalah ini maka akan sedikit membantu masyarakat dalam menanggapi
bagaimana proses dalam penelitian sosial itu, dan sebagai bahan pengayaan
perkuliahan serta memenuhi tugas bimbingan dari dosen yang sekiranya dapat
menjadi pegangan penting dalam memuhi semua kewajiban yang harus dilakukan.
BAB II
RUMUSAN MASALAH
Rumusan
Masalah
1 Apa itu penelitian sosial?
2 Apasajakah yang menjadi karakteristik metode
penelitian social?
3 Apa itu the foundation of social theory?
4 Apasajakah yang menjadi proses penelitian?
5 Apa itu dua sistem logis?
6 Apasajakah yang menjadi gejala sosial?
7 Apasajakah yang menjadi unsur-unsur penelitian sosial?
8 Apasajakah jenis-jenis metode penelitian
dan macam-macam metodologi penelitian?
9 Apa itu variable?
10 Apasajakah hipotesis penelitian sosial?
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
PENELITIAN SOSIAL
Penelitian
sosial
Penelitian
sosial adalah istilah yang digunakan terhadap penyelidikan-penyeldikan yang
dirancang untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan sosial, gejala sosial, atau
praktik-praktik sosial. Istilah sosial ini menunujuk pada hubungan-hubungan
antara, dan di antara, orang-orang, kelompok-kelompok seperti keluarga,
institusi (sekolah, komunitas, organisasi, dan sebagainya), dan lingkungan yang
lebih besar.[[1]]
a.
Definisi
Gejala
sosial atau hubungan antara dua atau lebih gejala sosial dijadikan sebagai
topik penelitian sosial. Topik yang berhubungan dengan gejala sosial bisa
menyangkut individu (misal, kepuasan kerja), kelompok (misal, kepemimpinan),
masyarakat (misal, struktur sosial), institusi (misal, iklim organisasi), dan
juga lingkungan yang lebih luas seperti negara (misal, pertumbuhan ekonomi
nasional). Jika demikian, studi tentang hubungan-hubungan antara, dan di
antara, orang, kelompok, institusi, atau lingkungan yang lebih luas dinamakan
dengan penelitian sosial. Penelitian sosial merupakan suatu tipe penelitian
yang dilakukan oleh ilmuwan sosial (social scientist) untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai aspek sosial sehingga kita dapat
memahaminya.[2]
Penelitian
atau riset pada dasarnya merupakan suatu penyelidikan yang sistematis dan
metodis atas suatu masalah untuk menemukan solusi atas masalah tersebut dan
menambah khazanah pengetahuan.[3]
Para
peneliti sedang meneliti gejala sosial yang ada di dalam masyarakat. Kata
"research" dalam bahasa Inggris berasal dari kata “Reserare”
(bahasa Latin) yang berarti mengungkapkan. Secara etimologis, kata “research”
(penelitian, riset) berasal dari kata “re”
dan “to search”.
'Re' berarti kembali dan to search berarti mencari.[4]
Jadi, secara etimologis, penelitian berarti mencari kembali. Namun, makna
yang terkandung dalam kata “research”
jauh lebih luas dari pada sekedar mencari kembali atau mengungkapkan. Ini
terlihat dari beberapa definisi penelitian berikut :
''Penelitian
adalah penyelidikan yang sistematis untuk menemukan jawaban atas masalah.
Penelitian dapat digambarkan sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi
untuk menyelidiki masalah spesifik yang memerlukan solusi. Ini adalah
serangkaian langkah-langkah dirancang dan diikuti, dengan tujuan menemukan
jawaban terhadap isu-isu yang perhatian kepada kita dalam lingkungan kerja.”[5]
Jadi,
walaupun penelitian merupakan sentral untuk penyelidikan dan pencarian solusi
atas masalah-masalah sosial dan kegiatan akademik, belum ada konsensus dalam
literatur tentang bagaimana penelitian harus didefinisikan. Hussey menyatakan
bahwa penelitian menyediakan suatu peluang untuk mengenali dan memilih satu
masalah penelitian dan menyelidikinya secara bebas.[6]
b. Karakteristik
Menurut
Paul Leedy dalam bukunya Practical Research, ada 8 karakteristik Penelitian
Sosial[7] :
Penelitian
Sosial berasal dari satu pertanyaan atau masalah, dengan menanyakan pertanyaan
kita sedang berupaya untuk stimulasi dimulainya proses penelitian. Sumber
pertanyaan dapat berasal dari sekitar kita.[7]
Penelitian
Sosial membutuhkan tujuan yang jelas. Pernyataan tujuan ini menjawab
pertanyaan : “
Masalah apa yang akan diselesaikan/dipecahkan?”
tujuan adalah pernyataan permasalahan yang akan dipecahkan dalam Penelitian
Sosial.[7]
Penelitian
Sosial membutuhkan rencana spesifik untuk melakukan penelitian rencana kegiatan
disusun. Selain menetapkan tujuan dari Penelitian Sosial, kita harus menetapkan
juga bagaimana mencapai tujuan tersebut. Beberapa hal yang perlu diputuskan
misalnya: dimana mendapatkan data? Bagaimana mengumpulkan data tersebut? Apakah
data yang ada berelasi dengan permasalahan yang ditetapkan dalam Penelitian
Sosial?7
Penelitian
Sosial biasanya membagi masalah prinsip menjadi beberapa submasalah: untuk
mempermudah menjawab permasalahan, biasanya masalah yang prinsip dibagi menjadi
beberapa sub masalah.7
Contoh:
Masalah : Kompresi data dengan algoritma substitution Sub-masalah: -
bagaimana melakukan kompresi data pada file teks hingga hasil kompresi 30% dari
file asli? - bagaimana melakukan dekompresi pada file teks tanpa mengubah isi?
Penelitian
Sosial dilakukan berdasarkan masalah, pertanyaan atau hipotesis Penelitian
Sosial yang spesifik: Hipotesis adalah asumsi atau dugaan yang logis yang
memberikan jawaban sementara tentang permasalahan Penelitian Sosial berdasarkan
penyelidikan awal. Hipotesis mengarahkan kita ke sumber-sumber informasi yang
membantu kita untuk menyelesaikan dan menjawab permasalahan Penelitian Sosial
yang sudah ditetapkan. Hipotesis bisa lebih dari satu. Hipotesis mempunyai
kemungkinan didukung atau tidak didukung oleh data.7
Penelitian
Sosial mengakui asumsi-asumi: Dalam Penelitian Sosial, asumsi merupakan hal
penting untuk ditetapkan. Asumsi adalah kondisi yang ditetapkan sehingga
jangkauan Penelitian Sosial jelas batasnya. Asumsi juga bisa merupakan batasan
sistem di mana kita melakukan Penelitian Sosial.7
Penelitian
Sosial membutuhkan data dan intepretasi data untuk menyelesaikan masalah yang
mendasari adanya Penelitian Sosial: Pentingnya data bergantung pada bagaimana
peneliti memberi arti dan menarik inti sari dari data-data yang tersedia. Di
dalam Penelitian Sosial data yang tidak diintepretasikan/diterjemahkan tidak
berarti apapun.7
Penelitian
Sosial bersifat siklus.7 Siklus dari Penelitian Sosial dapat
digambarkan seperti pada gambar disamping.
c.
Siklus Penelitian
Sosial
Untuk
memulai suatu penelitian, permasalahan yang akan dipecahkan perlu ditemukan
lebih dahulu. Beberapa hal yang membantu penemuan tersebut adalah membaca
artikel jurnal-jurnal ilmiah pada bidang yang diminati. Dengan membaca beberapa
artikel jurnal yang memuat permasalahan dan pemecahannya diharapkan ada
stimulasi dari pembacaan tersebut untuk menimbulkan ide-ide lain yang layak
untuk diteliti.7
d.
Filosofi
Berasarkan
pandangan tersebut, maka dapat dirinci unsur-unsur penting filosofi yang
mendasari penelitian sosial sebagai kegiatan ilmiah, yaitu:[8]
Kegiatan
intelektual (pemikiran);8
Mencari
makna yang hakiki (interpretasi);8
Segala
fakta dan gejala (objek);8
Dengan
cara refleksi, metodis, sistematis (metode);8
Untuk
kebahagiaan masyarakat (tujuan).8
Sebagai
kegiatan ilmiah, penelitian sosial juga memiliki ciri-ciri sebagaimana
dijelaskan oleh Soedjono Dirdjosisworo sebagai berikut:[9]
1.
Sistematis artinya
bahasan tersusun secara teratur, berurutan menurut sistem.9
2.
Logis artinya sesuai
dengan logika, masuk akal, benar menurut penanalaran.9
3.
Empiris artinya diperoleh
dari pengalaman, penemuan, pengamatan.9
4.
Metodis artinya
berdasarkan metode yang kebenarannya diakui oleh penalaran.9
5.
Umum artinya
menggeneralisasi, meliputi keseluruhan tidak menyangkut yang khusus saja.9
6.
Akumulatif artinya
bertambah terus, makin berkembang, dinamis.9
Penelitian
sosial sebagai kegiatan ilmiah dilakukan terus-menerus guna mengungkapkan
kebenaran sesungguhnya dari objek yang diteliti.[10]
Kebenaran yang sesungguhnya itu bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Kebenaran objek yang diteliti menjadi dasar keteraturan yang menciptakan
keamanan, ketertiban, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat. Harsja
Bachtiar mengemukakan dua kategori keteraturan dari objek yang diteliti, yaitu:[11]
Keteraturan
alam semesta selalu berkualitas 100% benar karena keteraturan itu tetap, tidak
berubah, sehingga metode penelitiannya pun tepat. Ini terdapat pada ilmu-ilmu
eksakta, seperti astronomi, fisika, kimia, biologi, kedokteran.[11]
Keteraturan
hubungan antarmanusia dalam hidup bermasyarakat. Untuk mengungkapkan kebenaran
keteraturan tersebut dipinjam metode penelitian ilmu eksakta, ternyata hasil
penelitiannya tidak selalu 100% benar, melainkan hanya mendekati kebenaran
karena keteraturan dalam hubungan hidup bermasyarakat itu dapat berubah dari
saat ke saat sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Ini terdapat pada
ilmu-ilmu sosial, seperti ekonomi, hukum, politik, sosiologi, demografi.11
Berdasarkan
uraian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa perkembangan ilmu sosial selalu
dilandasi oleh kebenaran yang relatif, keteraturan yang selalu berubah-ubah
dari waktu ke waktu, ketidakpuasan terhadap keadaan yang ada, keingintahuan
terus-menerus, yang ditelaah bukan kuantitas, melainkan kualitas dari gejala
sosial yang ada (terjadi).11
2.
Kegunaan
Penelitian Sosial
Menurut
Siti Partini penelitian sosial memiliki beberapa kegunaan antara lain:
1.
Penjajagan (
ekploratif), yaitu berguna untuk mencari-cari kemungkinan terbaik dalam
memecahkan problema sosial, sehingga sifatnya masih mencoba dan terbuka. Contoh: upaya
menanggulangi kenakalan remaja,
kemiskinan, dll.
2. Deskriftif, yaitu
berguna untuk pengukuran yang cermat terhadap penomena social tertentu. Contoh:
penelitian tentang jumlah pengangguran, pendapatan masyarakat, dll.
3.
Eksplanatori,
yaitu berguna untuk menjelaskan sebab-sebab yang
melatarbelakangi suatu keadaan tertentu.
Contoh: pengaruh kemiskinan terhadap
peluang hidup manusia.
4.
Evaluatif,
yaitu berguna untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang ditetapkan
pada awal program sudah tercapai.
Contoh: penelitian tentang efektifitas dana bos dalam mengurangi
anak putus sekolah.
5. Prediktif, yaitu
berguna untuk meramalkan kejadian atau fenomena soaial tertentu yang akan terjadi.
Contoh: penelitian tentang akibat ke depan banjir lumpur panaS sidoarjo.
3.
Fungsi/manfaat Penelitian Sosial
Fungsi adalah kegunaan suatu
hal. Fungsi penelitian adalah kegunaanpenelitian sosial. Berguna untuk siapa?
Fungsi penelitian sosial sedikitnyamemiliki kegunaan dalam tiga hal, yaitu:
kegunaan untuk pengembangan ilmusosial itu sendiri, kegunaan bagi masyarakat
(sasaran penelitian), dan kegunaan untuk peneliti sendiri.
1. Ilmu
sosial
Kegunaan
untuk pengembangan ilmu sosial yaitu penelitian ituberguna untuk mengembangkan
dan mensahihkan ilmu sosial. Jika macam-macam ilmu sosial
meliputi sosiologi, antropologi, ekonomi, geografi, sejarah,dan hukum,
maka penelitian itu berguna untuk mengembangkan dan mensahihkan ilmu sosiologi,
antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, dan hukum.
2. Masyarakat sasaran
Maksud kegunaan penelitian
sosial bagi masyarakat (sasaranpenelitian) adalah hasil penelitian itu berguna
untuk menjawab masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat yang
diteliti. Jika penelitian itumeneliti tenang masalah kemiskinan, maka fungsi
penelitian itu adalah untuk menjawab bagaimana cara dan strategi agar
masyarakat itu sejahtera.
3. Peneliti
Peneliti
adalah orang yang melakukan penelitian. Apakah seorangpeneliti mendapatkan
kegunaan dari proses penelitian? Jawabnya, ya. Denganproses penelitian, seorang
peneliti semakin bertambah wawasan danpengetahuannya tentang masalah yang
diteliti dan ilmu yang dimiliki. Seorangpeneliti kemiskinan,
pasti akan memahami persoalan mengapa dan bagaimana terjadi kemiskinan.
Tentu peneliti ini dikemudian hari akan menjadi seorangahli (teoritis) dalam
mengentaskan kemiskinan. Banyak juga seorang penelitiyang mendapatkan materi
(harta) dari penelitian.
Definisi
manfaat adalah guna atau untung. Kebalikan dari manfaat adalahmudarat atau
rugi. Jadi manfaat penelitian sosial sama halnya dengan fungsi penelitian
sosial. Lantas apa mudarat dari penelitian sosial? Mudarat daripenelitian
social.
a.
jika penelitian sosial
itu akan menghancurkan ilmu sosial itu sendiri.
b.
jika penelitian sosial
itu akan menyengsarakan masyarakat sasaran, dan
c. jika
penelitian sosial itu akan mengancam eksistensi peneliti itu sendiri.
1.
Data dan Pengumpulan (collecting) Data.
Dalam
poin ini, perlu diuraikan apakah data dalam penelitian adalah data primer atau
data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengukuran
langsung oleh peneliti yang bukan berasal dari data yang telah ada, sedangkan
data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh pihak lain dan telah
didokumentasikan sehingga dapat digunakan oleh pihak lain (peneliti). Perlu
juga diuraikan data-data apa saja yang digunakan dalam penelitian secara jelas.
Sedangkan dalam pengumpulan data, perlu diuraikan bagaimana cara peneliti
memperoleh dan mengumpulkan data, dengan menggunakan media apa.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan instrumen (media) kuisioner yaitu
serangkain pertanyaan untuk dijawab responden, instrumen alat pengukur lainnya
(seperti alat pengukur kondisi fisik suatu benda). Dapat juga digunakan teknik
wawancara, yaitu data diambil bersadarkan wawancara peneliti terhadap
responden. Dalam hal ini, peneliti melakukan wawancara berdasarkan panduan
wawancara yang telah disusun untuk penelitian. Apabila panduan wawancara yang
digunakan hanyalah bersifat pertanyaan dasar dan responden diharapkan dapat
menjawab secara mengembang, maka tekik ini disebut dengan wawancara mendalam (circumstantial
interview). Apabila data yang digunakan adalah data sekunder, maka pada umumnya
pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan dokumentasi dan observasi.
Dokumentasi adalah memanfaatkan dokumen yang sudah ada, dan dalam hal ini perlu
diuraikan dokumen apa saja secara jelas, sedangkan observasi adalah pengamatan
kualitatif secara langsung oleh peneliti untuk mengambil data-data berdasarkan
kondisi tertentu sesuai dengan maksud penelitian. Sebagai contoh observasi
disini adalah tindakan peneliti mengamati perilaku siswa saat dilaksanakannya
penelitian.
2.
Populasi, Sampel, dan Sampling.
Penelitian
yang melibatkan banyak data akan menjadi sulit dilaksanakan atau tidak efektif
apabila dilakukukan dengan menggunakan seleuruh data yang ada. Apabila jumlah
data yang diteliti kurang dari 100 atau dirasa masih mudah untuk diambil
semuanya, maka sebaiknya seluruh data tersebut digunakan, sedangkan apabila
jumlah data lebih dari 100 atau dirasa akan banyak kesulitan apabila digunakan
seluruhnya, maka sebaiknya dilakukan sampling. Populasi merupakan seluruh unit
yang dikaji dalam penelitian. Sebagai contoh adalah siswa SMP Negeri 1
Yogyakarta. Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang digunakan
sebagai data dalam penelitian. Sampel ini haruslah representatif atau mewakili,
yaitu satu sampel diambil pada data yang sekiranya memiliki kesamaan sifat
dengan data lainnya (sampel diambil darai kelompok yang homogen). Cara
pengambilan sampel agar memenuhi kriteria representatif ini disebut sebagai
sampling.
Tujuan
metode Penelitian Sosial
1.
Untuk
menemukan hal baru dalam memecahkan masalah sosial (Ekploratif).
Definisi
eksplorasi sendiri adalah penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh
pengetahuan lebih banyak, terutama sumber-sumber alam yang ada di tempat itu.
Proses eksplorasi ini kemudian akan menghasilkan penemuan baru.
Penemuan-penemuan baru dibedakan dalam dua pengertian, yaitu: discovery dan
invention. Discovery yaitu penemuan kebudayaan baik berupa alat ataupun gagasan
yang diciptakan oleh seorang individu ataupun serangkaian ciptaan beberapa
individu. Selanjutnya invention yaitu discovery yang sudah mendapatkan
pengakuan oleh masyarakat dan dapat diterima serta diterapkan dalam kehidupan.
Berdasarkan uraian tersebut, maka tujuan penelitian sosial dilihat dari temuan
hasil eksplorasi dapat dibagi dua, yaitu: penelitian sosial dengan tujuan
discovery dan penelitian sosial dengan tujuan invention. Jadi eksplorasi hanya
sebatas jandela masuk dalam mewujudkan tujuan penelitian sosial, eksplorasi
bukanlah suatu tujuan, tetapi proses.
2.
Untuk verifikasi atau
memeriksan tentang kebenaran suatu penyelesaian masalah
sosial.
Definisi
verifikasi adalah pemeriksaan tentang kebenaran laporan. Verivikasi dalam penelitian
sosial adalah suatu tujuan penelitian sosial yang hendak dicapai untuk menguji
kebenaran atau menguji hasil penelitian yang pernah dilakukan karena adanya
data-data yang diragukan kebenarannya.
3.
Untuk
mengembangkan ilmu sosial dalam fungsinya sebagai alat untuk menyelesaikan
masalah-masalah sosial (devolepment).
Tujuan
penelitian sosial untuk devolepment adalah penelitian sosial tersebut dilakukan
untuk mengembangkan, memperluas, dan menggali lebih dalam suatu ilmu sosial
atau masalah sosial guna dipecahkan agar tercipta ilmu sosial dan masyarakat
yang diinginkan.
B. KARAKTERISTIK METODE PENELITIAN SOSIAL
Menurut
Paul Leedy dalam bukunya Practical Research, ada 8 karakteristik
Penelitian Sosial :
1. Penelitian
Sosial berasal dari satu pertanyaan atau masalah, dengan
menanyakan pertanyaan kita
sedang berupaya untuk stimulasi dimulainya roses penelitian.
Sumber pertanyaan dapat berasal dari sekitar kita.
2. Penelitian
Sosial membutuhkan tujuan yang
jelas. Pernyataan tujuan ini menjawab pertanyaan : “ Masalah apa yang akan
diselesaikan/dipecahkan?” tujuan adalah pernyataan permasalahan yang akan
dipecahkan dalam Penelitian Sosial.
3. Penelitian
Sosial membutuhkan rencana spesifik
untuk melakukan penelitian rencana kegiatan disusun.
Selain menetapkan tujuan dari Penelitian Sosial, kita harus menetapkan juga
bagaimana mencapai tujuan tersebut. Beberapa hal yang perlu diputuskan
misalnya: dimana mendapatkan data? Bagaimana mengumpulkan data
tersebut? Apakah data yang ada berelasi dengan permasalahan yang
ditetapkan dalam Penelitian Sosial?
4. Penelitian
Sosial biasanya membagi masalah prinsip menjadi
beberapa submasalah: untuk mempermudah menjawab permasalahan, biasanya masalah
yang prinsip dibagi menjadi beberapa submasalah.
Pertanyaan atau hipotesis penelitian
Sosial yang spesifik. Hipotesis adalah
asumsi atau dugaan yang logis yang memberikan jawaban sementara tentang permasalahan Penelitian
Sosial berdasarkan penyelidikan awal.
Hipotesis mengarahkan
kita ke sumber-sumber informasi yang
membantu kita untuk menyelesaikan dan menjawab permasalahan Penelitian Sosial
yang sudah ditetapkan. Hipotesis bisa lebih
dari satu. Hipotesis mempunyai kemungkinan
didukung atau tidak didukung oleh data.
6. Penelitian Sosial
mengakui asumsi-asumi:
Dalam Penelitian Sosial, asumsi merupakan
hal penting untuk ditetapkan. Asumsi adalah kondisi yang ditetapkan
sehingga jangkauan Penelitian Sosial jelas batasnya.
Asumsi juga bisa merupakan batasan sistem di mana kita melakukan Penelitian
Sosial.
7. Penelitian Sosial
membutuhkan data dan intepretasi data
untuk menyelesaikan masalah yang mendasari adanya Penelitian Sosial: Pentingnya
data bergantung pada bagaimana peneliti memberi arti dan menarik inti sari dari
data-data yang tersedia. Di dalam Penelitian Sosial data yang tidak
diintepretasikan/diterjemahkan tidak berarti apapun.
Siklus Penelitian Sosial
Untuk
memulai suatu penelitian, permasalahan yang akan dipecahkan perlu ditemukan
lebih dahulu. Beberapa hal yang membantu penemuan tersebut adalah membaca artikel jurnal-jurnal ilmiah pada bidang yang
diminati. Dengan membaca beberapa artikel jurnal yang memuat permasalahan dan
pemecahannya diharapkan ada stimulasi dari pembacaan tersebut untuk menimbulkan
ide-ide lain yang layak untuk diteliti.
C. THE FOUNDATION OF SOCIAL THEORY
Empat Pondasi Ilmu Sosial :
1.
Teori, bukan filsafat
atau keimanan
2.
Regularitas Sosial
3.
Data Agregat, bukan
Individual
4.
Bahasa Variabel
1. Teori bukan
filsafat atau keimanan
Ilmu
ditandai dengan istilah logico-empirical yang artinya didasarkan pada dua hal:
(1) logika atau penalaran rasional dan (2) pengamatan atas gejala empirik.
Artinya, setiap hal dikatakan ilmiah kalau masuk akal dan bisa dibuktikan
dengan apa yang diamati. Teori berkenaan dengan aspek logika keilmuan
sedangkan riset berkenaan dengan aspek pengamatan. Teori sosial ilmiah
berkenaan dengan apa yang senyatanya terjadi (what is), bukan apa yang
seharusnya terjadi (what should be)[12].
Hal ini menjadikan ilmu sosial tidak memperdebatkan tentang nilai. Ilmu sosial
tidak menunjukkan apakah kapitalisme lebih baik atau lebih buruk daripada
sosialisme, kecuali diukur dari kondisi-kondisi tertentu yang telah disepakati
sebelumnya, misalnya diukur dari pemberian kebebasan, kapitalisme lebih memberikan
kebebasan daripada sosialisme.
2. Regularitas
Sosial (Keteraturan sosial)
Asumsi
dasarnya: kehidupan sosial sedinamis apapun adalah teratur, bukannya samasekali
kacau atau acak. Asumsi keteraturan itu menjadi dasar bagi semua ilmu, namun
dibandigkan dengan ilmu alam, ilmu sosial mempunyai kekhasan dan keterbatasan.
Contoh: es mencair pada suhu tertentu, namun orang yang nampak alim ada yang
berprofesi sebagai pencuri. Namun kalau mengamati sebagian besar orang yang
nampak alim maka sebagian besar tidak pernah mencuri.
Ada
tiga keberatan terhadap asumsi regularitas dalam ilmu sosial: (1) beberapa hal
yang dianggap sebagai "keteraturan" merupakan hal yang nampaknya
dibuat-buat (trivial). Misalnya "promosi jabatan yang adil meningkatkan
moral prajurit." Ketika diteliti, prajurit yang lambat dipromosikan
menganggap sistem promosinya tidak adil, dan prajurit yang dipromosikan cepat
menganggap sistem promosi itu adil. (2) Kasus-kasus yang tercatat berlawanan
dengan "keteraturan" itu menjadikan apa yang dianggap sebagai
keterauran bukanlah benar-benar sebuah keteraturan; (3) Orang yang terlibat
dalam "keteraturan sosial" itu sebenarnya bisa saja merusak
keteraturan itu jika mereka mau (menyangkut adanya sikap atau attitude).
3. Data Agregat,
bukannya Individual
Ilmuwan
sosial lebih mempelajari pola-pola sosial daripada sifat-sifat individual.
Keseluruhan pola-pola teratur itu mencerminkan adanya tindakan dan situasi yang
bersifat agregat dari banyak individu. Sekalipun kadang kala ulmuwan sosial
mempelajari motivasi (dorongan) yang mempengaruhi tingkah-laku seseorang,
individu itu sendiri jarang sekali dijadikan obyek kajian ilmu soaial. Ilmu
sosial tidak menghasilkan teori tentang seseorang, melainkan hanya mengenai
hakikat kehidupan berkelompok (kehidupan sosial).
Kadang
kala keteraturan agregatif merupakan hal yang menakjubkan. Ambil contoh, laju
kelahiran. Orang punya anak didasarkan pada rentang variasi alasan yang sangat
lebar. Beberapa mengatakan bahwa itu kehendak orang tua mereka, beberapa
mengatakan itu merupakan kesempurnaannya sebagai lakilaki dan wanita, beberapa
karena ingin mempererat tali perkawinan, beberapa lagi karena
"kecelakaan." Tetapi di luar semua perbedaan alasan mempunyai anak
itu, secara keseluruhan laju kelahiran anak dalam suatu masyarakat menunjukkan
angka yang konsisten dari tahun ke tahun. Jika tahun ini ada 19,1 anak lahir
per seribu penduduk, maka tahun depan juga angkanya dekat dengan 19,1 per
seribu, sekalipun angka laju kelahiran itu mungkin akan meningkat atau merosot
dalam periode yang lama. Seandainya laju kelahiran di suatu masyarakat adalah
19,1 lalu 35,6 lalu 7,8 lalu 28,9 lalu 16,2 dalam waktu lima tahun
berturut-turut, para demografer akan jatuh pingsan seketika!
Dengan
demikian, teori sosial berkenaan dengan tingkah-laku agregat, bukan
tingkah-laku individual. Tujuan ilmu sosial adalah menjelaskan mengapa
pola-pola agregatif tingkah-laku masyarakat sedemikian teraturnya bahkan ketika
orang-orang yang termasuk di dalamnya berubah dari waktu ke waktu. Dengan kata
lain, ilmu sosial tidak berusaha menjelaskan tentang masyarakat itu sendiri,
melainkan lebih bertujuan menjelaskan sistem sosial di mana masyarakat itu
berkehidupan, yakni sistem yang menjelaskan mengapa masyarakat melakukan
apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu elemen-elemen dalam sistem
tersebut bukanlah masyarakat, melainkan variabel-variabel.[13]
4. Ilmu Sosial
ber-Bahasa Variabel
Ilustrasi:
obyek seorang dokter adalah pasien. Jika si pasien sakit, tugas dokter itu
membuatnya sembuh. Tetapi seorang peneliti kesehatan obyeknya adalah penyakit.
Mungkin melihat pada pasien yang sama, namun pasien itu relevan baginya hanya
kalau dia menderita penyakit yang ditelitinya. Ini bukan berarti bahwa peneliti
kesehatan tak peduli dengan orang sakit. Tujuan penelitiannya juga untuk
melindungi semua manusia dari penyakit. Sebab kalau penyakit itu bisa
dipelajarinya tanpa melihat pada pasien langsung (misalnya di lab) dia akan
melakukan itu.
Dengan
analogi itu ingin dikatakan di sini bahwa ilmu sosial memuat studi mengenai variabel-variabel
dan atribut-atribut yang menyusunnya. Teoriteori ilmu sosial
dituliskan dalam bahasa variabel, dan menggambarkan masyarakat yang memuat
variabel-variabel itu.
D. PROSES
PENELITIAN
1.
Masalah penelitian mencakup; penemuan masalah dan pemecahan masalah
tahap: identifikasi bidang permasalahan, pemilihan atau pemilihan pokok
masalahdan perumusan masaalah kajian teoriis meyusun kerangka teoritis yang
menjadi dasar untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian
2.
Pengujian fakta (data) mencackup: pemilihan, pengumpulan dan analisis
fakta yang terkait dengan masalah yang diteliti data: sekumpulan fakta yang
diperoleh melalui pengamatan (observasi) atau servey, kesimpulan merupakan
hasil penelitian yang meberi feed back pada masalah atau pertanyaan penelitian.
Definisi
Operasional Penelitian
Adalah suatu konsep yang digambarkan dalam definisi
konsep tentu saja tidak akan dapat diobservasi atau diukur gejalanya
dilapangan. Untuk dapat diobservasi atau diukur, maka suatu konsep harus
didefinisikan secara operasional. Definisi operasional ini dimaksudkan untuk
memberikan rujukan-rujukan empiris apa saja yang dapat ditemukan dilapangan
untuk menggambarkan secara tepat konsep yang dimaksud sehingga konsep tersebut
dapat diamati dan diukur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa definisi
operasional merupakan jembatan yang menghubungkan conceptual-theoretical
level dengan empirical –observational level.
Sebagai contoh, untuk menggambarkan apakah ada atau tidak partisipasi di suatu kabupaten/kota dalam pembuatan kebijakan maka survey GDS I menggunakan definisi operasional sebagai berikut untuk menggambarkan konsep partisipasi sebagai sesuatu yang dapat diamati atau diukur:[14]
1. Pertemuan warga
2. Kotak pos
3. Forum komunikasi
4. Peninjauan lapangan
5. Media massa
6. Musbangdes/UDKP/Rakorbang
Sebagai contoh, untuk menggambarkan apakah ada atau tidak partisipasi di suatu kabupaten/kota dalam pembuatan kebijakan maka survey GDS I menggunakan definisi operasional sebagai berikut untuk menggambarkan konsep partisipasi sebagai sesuatu yang dapat diamati atau diukur:[14]
1. Pertemuan warga
2. Kotak pos
3. Forum komunikasi
4. Peninjauan lapangan
5. Media massa
6. Musbangdes/UDKP/Rakorbang
E. DUA SISTEM LOGIS
Deduktif dan Induktif Penalaran:
Sebuah Ilustrasi Kasus
Kedua model akan
digambarkan dengan satu contoh: berusaha untuk memahami mengapa beberapa orang
lebih religius daripada yang lain. Kita akan
melihat bahwa gender, usia, status keluarga, dan status sosial yang terlibat.
Model deduktif dimulai dengan teori tentang
religiusitas - disebut "Teori Gratifikasi Sosial," yang menunjukkan
hipotesis tentang bagaimana empat variabel mungkin menyebabkan tingkat yang
lebih tinggi atau lebih rendah religiusitas. Model
induktif dimulai dengan hubungan yang diamati dan berusaha untuk masuk akal
dari mereka.
1.
Model
deduktif, kemudian, dimulai dengan teori dan hasil untuk derivasi hipotesis
yang akan diuji.
2.
Model
induktif dimulai dengan pengamatan dan terlihat pola-pola umum yang dapat
membentuk dasar untuk teori.
3.
Kedua
model sama-sama berlaku sebagai pendekatan untuk pemahaman, dan ilmu sosial
cenderung untuk kemajuan melalui pergantian dari dua. Pengamatan dapat menyebabkan teori, teori
diuji melalui pengamatan, hasil tidak sepenuhnya mengkonfirmasi teori, sehingga
pengamatan baru menjadi dasar untuk memperbaiki teori, yang kemudian diuji.
F. GEJALA
SOSIAL
Gejala sosial atau
hubungan antara dua atau lebih gejala
sosial dijadikan sebagai topik penelitian sosial. Topik yang
berhubungan dengan gejala
sosial bisa menyangkut individu (misal,
kepuasan kerja), kelompok (misal, kepemimpinan),
masyarakat
(misal, struktur
sosial), institusi (misal, iklim organisasi), dan juga lingkungan
yang lebih luas seperti negara (misal, pertumbuhan ekonomi nasional). Jika
demikian, studi tentang hubungan-hubungan antara, dan di antara, orang, kelompok, institusi, atau
lingkungan yang lebih luas dinamakan dengan penelitian sosial. Penelitian
sosial merupakan suatu tipe penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan
sosial (social scientist) untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang berbagai aspek sosial sehingga kita dapat memahaminya.
Gejala
sosial adalah bentrokan atau penyatuan dimensi-dimensi sosial dalam dri manusia
sebagai makhluk yg berinteraksi antar sesamanya (manusia sebagai makhluk
sosial).
Contoh yg paling populer adalah perang (contoh bentrokannya) perdamaian (contoh penyatuannya) kedua contoh di atas adalah yg paling besar dan masih banyak banget yg lainnya. Untuk penjelasan lengkap tentang masalah ini sangat panjang dan agak rumit. (sebaiknya lebih banyak baca buku tentang ilmu sosial jika benar2 ingin memahaminya)
Gejala non sosial lebih pada kondisi alam seperti bencana atau aktifitas alam lainnya seperti hujan, petir, banjir, gempa yg terjadi karena pergeseran atau pergerakan dimensi-dimensi alam itu sendiri.
Contoh yg paling populer adalah perang (contoh bentrokannya) perdamaian (contoh penyatuannya) kedua contoh di atas adalah yg paling besar dan masih banyak banget yg lainnya. Untuk penjelasan lengkap tentang masalah ini sangat panjang dan agak rumit. (sebaiknya lebih banyak baca buku tentang ilmu sosial jika benar2 ingin memahaminya)
Gejala non sosial lebih pada kondisi alam seperti bencana atau aktifitas alam lainnya seperti hujan, petir, banjir, gempa yg terjadi karena pergeseran atau pergerakan dimensi-dimensi alam itu sendiri.
Penelitian
atau riset pada dasarnya merupakan suatu
penyelidikan yang sistematis
dan metodis atas suatu masalah untuk menemukan solusi atas masalah tersebut dan
menambah khazanah pengetahuan.
G. UNSUR-UNSUR
PENELITIAN SOSIAL
Teori dan Hipotesis
Kedudukan
kedua unsur penelitian ini sangat penting dan sentra di dalam enelitian survei.
Teori di dalam penelitian sepert idibutuhkan sebagai pegangan pokk (kerangka
berfikir) secara umum sedangkan hipotesis dibutuhkan sebagai saran untuk
menjelaskan permasalahan yang sedang dicarikan pemecahanya (surakhmad,1990:63).
Selama data (informas yang lengkap)
belum terkumpul, maka seseorang peneliti akan berpedoman pada teori sementara
sebagai petunjuk sementara ke arah pemecahan masalah. Teori sementara yang
berfungsi dmikian itulah yang biasa disebut hipotesis. Secara etiomologis,
hipotesis berarti suatu yang masih kurang dari 9hypo) sebuah pendapat (tesis).
Dengan kata lain hipotesis adlah sebuah kesimpulan tetapi kesimpulan belum
final karena masih harus ddiuji kebenaranya. Dari uraian disini jelaslah bahwa
hipotesis merupakan jawaban sementara terhadapa masalah yang tengah
diteliti.
H.
JENIS-JENIS METODE PENELITIAN DAN MACAM-MACAM METODOLOGI PENELITIAN
Secara umum metodelogi penelitian dapat kita
bagi dalam 7 jenis metode penelitian, diantaranya;[15]
1. Penelitian
historis; penelitian yang bertujuan
membuat rekunstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif dengan cara
mengumpulkan, mengevaluasi, memverfikasi, serta mensintesiskan bukti-bukti untuk
menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat dan akurat.
2. Penelitian
diskriptif; penelitian yang bertujuan
membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan
sifat-sifat pada suatu objek penelitian tertentu.
3. Penelitian
pengembangan; penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki suatu pola dan perurutan
pertumbuhan atau perubahan suatu objek atau gejala. Dimana peneliti ingin
melihat hasil yang lebih efektif dan efisien dari hasil yang akan dicapainya.
4. Penelitian kasus
(lapangan); penelitian yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif tentang
latar belakang keadaan sekarang dan intraksi lingkungan suatu unit sosial, baik
individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.
5. Penelitian
korelasional; penelitian yang bertujuan untuk melihat ada tidaknya hubungan
antara variabel atau gejala tertentu terhadap variabel atau gejala lainnya.
6. Penelitian
tindakan; penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan baru, cara pendekatan baru atau suatu produk
pengetahuan baru untuk memecahkan
masalah dengan penerapan langsung di lapangan secara nyata.
7. Penelitian
eksperimental; penelitian yang bertujuan
untuk menyelidiki sebab akibat tertentu
dengan memberikan perlakuan tertentu atau kondisi yang berbeda.
Dari
jenis-jenis penelitian diatas lebih bersifat umum atau pertinjauan dari jenis
penelitian secara mendalam dan skarang kita siap membagi beberapa penelitian
berdasarkan beberapa pertimbangan atau kualifikasi tertentu;
Macam
macam penelitian sebagai berikut;
1. Secara paradigmatik
dikenal ada 3 (tiga) macam paradigma penelitian:
a.
Positivistik;
fokusnya mencari hubungan antar-variabel --- Madhab Comtean (August Compte).
Akar penelitian kuantitatif.
b. Interpretif
(fokusnya pada makna suatu tindakan) --- madhab Weberian. Akar penelitian
kualitatif.
c. Kritik (fokusnya
pada wacana. Wacana merupakan medan beroperasinya kekuasaan) madhab
postmodernisme (ideologi dan kekuasaan)
2. Secara
metodologik, terdapat 4 (dua) macam metode penelitain:
a.
Metode Kuantitatif --- dasarnya adalah semua
persoalan kehidupan terjadi dalam hubungan sebab akibat. Tindakan
manusia merupakan akibat dari sebab-sebab tertentu.
b. Metode
Kualitatif --- dasarnya adalah manusia merupakan makhluk berkehendak
bebas (free will) yang bertindak atas dasar keinginan pribadi.
c. Metode Campuran
(Mixing Methods) Kuantitatif dan Kualitatif dasarnya adalah logika triangulasi
(hasil kualitatif bisa dikembangkan untuk diuji kuantitatif, atau hasil
kuantitatif perlu diperdalam kepada para aktor secara kualitatif).
d.
Metode
Kritis/Refleksif – dasarnya adalah fungsi praksis (perbaikan) ilmu pengetahuan
untuk mengkritisi dan mengubah situasi yang tidak manusiawi.
3. Berdasarkan
dorongannya, terdapat 2 (dua) macam penelitian:
a. Applied
(terapan) --- tujuannya untuk menyelesaikan persoalan dengan cepat.
b.
Pure
(murni) --- tujuannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
4. Berdasarkan
jenis realitasnya (unit of analysis), terdapat 4 (empat)
jenis penelitian:
a. Penelitian mikro
objektif (misalnya tentang tindakan-tindakan individual)
b. Penelitian mikro
subjektif (misalnya tentang pendapat, ide,
pengalaman individual).
c. Penelitian makro objektif
(misalnya tentang pola-pola struktural umum yang kasat mata, seperti
masyarakat, birokrasi, hukum, arsitektur, pendidikan dsb).
d. Penelitian makro subjektif (misalnya tentang
pola-pola struktural umum yang tidak kasat mata, seperti kultur, norma,
dan nilai yang ada di masyarakat).
e. Penelitian pertautan
(linkage) antar dua atau lebih kuwadran (mikro-makro,subjektif-objektif).
5. Berdasarkan sifat
masalah dan tujuan penelitian terdapat
a. Penelitian
eksploratori: Menjelajahi fenomena baru.
b. Penelitian
deskriptif: Memaparkan fenomena/fakta.
c. Penelitian
eksplanatori: Menjelaskan (hubungan) dua atau lebih fenomena/fakta.
d. Penelitian
Prediktif: Meramalkan kecenderungan fenomena/fakta berdasarkan data sekarang.
e. Penelitian
Interpretif: Memahami fenomena (khususnya melalui tindakan verbal dan diskursif
pelaku).
f. Penelitian
kritis: Memberikan penafsiran tandingan (alternatif) atas fenomena berdasarkan
pendirian tertentu.
g.
Penelitian
historis: merekonstruksi rangkaian kejadian penting masa lalu.
6. Berdasarkan
perolehan data, terdapat 2 (dua) macam jenis penelitian:
a.
lapangan
(field) (field research)
b.
teks
(text analysis/studies)
I. VARIABEL
Macam-Macam Variabel Dalam
Penelitian
a.
Pengertian
1.
Variabel
penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian
suatu penelitian.[16]
3.
Variabel
adalah semua keadaan, faktor, kondisi, perlakuan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil
eksperimen.[18]
5.
Variabel adalah gejala
atau obyek penelitian yang bervariasi, contoh: 1) variabel jenis kelamin
(laki-laki dan perempuan), 2) variabel profesi (guru, petani, pedagang).
b. Macam-macam
Variabel
1.
Variabel Kuantitatif.
a. Variabel
diskrit ( nominal,kategorik) yaitu variabael 2 kutub berlawanan.
Contoh: 1. Kehadiran : hadir,
tidak hadir
2. Jenis kelamin : laki-laki,
perempuan.
b.
Variabel kontinum
1. Variabel
Ordinal : variabel tingkatan.
Contoh:
Satria terpandai, Raka pandai, Yudit
tidak
pandai.
2. Variabel Interval:
variabel jarak.
Contoh: Jarak rumah Anto kesekolah 10 km, sedangkan Yuli 5 km maka vr intervalnya
adalah 5 km.
3. Variabel Ratio:
variabel perbandingan (sekian kali).
Contoh: Berat badan Heri 80kg, sedangkan berat badan
Upi 40 kg,
maka berat badan Heri 2 kali lipat Upi.
2.
Variabel Kualitatif
adalah variabel yang menunjukkan suatu intensitas yang sulit diukur dengan angka.
Contoh
: kedisiplinan, kemakmuran dan kepandaian.
3. Variabel
Independen (Pengaruh, Bebas, Stimulus, Prediktor).
Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya
atau timbulnya variabel dependen (terikat).
Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya
atau timbulnya variabel dependen (terikat).
4. Variabel
Dependen (Dipengaruhi, Terikat, Output, Kriteria, Konsekuen).
Merupakan variabel yang dipengaruhi atau akibat, karena adanya variabel bebas.
Contoh: Pengaruh Iklan Terhadap Motivasi Pembelian. Iklan = Variabel
Independen Motivasi Pembelian = Variabel Dependen.
Merupakan variabel yang dipengaruhi atau akibat, karena adanya variabel bebas.
Contoh: Pengaruh Iklan Terhadap Motivasi Pembelian. Iklan = Variabel
Independen Motivasi Pembelian = Variabel Dependen.
5.
Variabel Moderator.
Merupakan
variabel yang mepengaruhi (memperkuat atau memperlemah) hubungan antara variabel
independen dengan dependen. Variabel ini sering disebut sebagai variabel independen
kedua.
Contoh: Anak adalah variabel
yang memperkuat hubungan
suami
isteri. Pihak
ketiga adalah variabel yang memperlemah hubungan suami isteri.
ketiga adalah variabel yang memperlemah hubungan suami isteri.
6. Variabel Intervening
(Antara).
Merupakan
variabel yang menghubungkan antara variabel independen dengan variabel dependen yang dapat
memperkuat atau memperlemah hubungan namun tidak dapat diamati atau diukur.
Contoh: Hubungan antara Kualitas
Pelayanan (Independent) dengan
Kepuasan
Konsumen (Intervening) dan Loyalitas (Dependen).
7. Variabel
Kontrol.
Merupakan
variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel independen terhadap
dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.
Contoh: Apakah ada perbedaan antara tenaga penjual (sales force) yang lulus D3 dan
S1 maka harus ditetapkan variable control berupa gaji yang sama, peralatan
yang sama, iklim kerja yang sama, dan lain-lain. Tanpa adanya variabel
kontrol maka sulit ditemukan apakah perbedaan penampilan karyawan
karena faktor pendidikan.
Contoh: Apakah ada perbedaan antara tenaga penjual (sales force) yang lulus D3 dan
S1 maka harus ditetapkan variable control berupa gaji yang sama, peralatan
yang sama, iklim kerja yang sama, dan lain-lain. Tanpa adanya variabel
kontrol maka sulit ditemukan apakah perbedaan penampilan karyawan
karena faktor pendidikan.
Variabel berasa dari kata baasa inggris variable
yang berarti faktor tak teta atau berubah ubah. Kemudian arti variable dalam
bahasa indonesia lebih tepat disebut bervariasi. Berarti variabel adalah
fenomena yang bervariasi dalam bentuk, kulantitas, mutu standar dan sebagainya.
Variabel dapat
dikelompokan menurut mepat bentuk pengukuran sebagai berikut :
a. Variabel Nominal, yaitu variabel yang idbentuk
berdasarkan atas penggolongan. Variabel ini bersifat diskrit dan saling pilih
(mutually exsclusive) antara kategori yang satu dan kategori yang lain,
contohnya; jenis kelamin, status pekerjaan, status perumahan dan sebagainya.
b. Variabel ordinal, variabel yang dibentuk berdasarkan
atas jenjang dalam atribut tertentu; jenjang tertinggi dan terendah sesungguhnya
ditetapkan menurut kesepakatan seingga angka 1 atau angka 10 dapat berada pada
tingkatan jenjang yang paling tinggi atau paling rendah.
c. Variabel interval, yaitu variabel ang dibangun dari
pengukuran,. Dalam pengukuran tersebut diamsumsikan terdapat satuan pengukuran
yang sama.
d. Variabel Ratio, yaitu variabel yang memeiliki
permulaan angka nol mutlak. Sebagai contoh, variabel umur; ada yang beruur
0,1,2,3,4 tahun dan sebagainya.
Kompleksitas variabel d atas sesungguhnya dapat
disederhanakan dengan hanya melihat bahwa variabel variabel itu terdiri atas
tiga rumpun variabel, yaitu rumpun variabel bebas 9 independent variable)
rumpun variabel tergantung (dependent variable) dan rumpun variabel penyela
(intervening vaiable).
c. Hubungan-hubungan Variabel
Pada umumnya penelitian sosia, bentuk bentuk
hubungan antara variabel penelitian tidak saja dipertimbangkan dalam analisis,
tetap merupakan hal yagn pokok dalam penelitaian sosial. Uumunya penelitian
sisak bertujuan mencari hubungan antara variiabel variabel tersebut keudian
hubungan hubugan itu diuji satu sama lain. Variabel dilihat bukan pada
keberadaanya saja, tetapi bagaimana hubungan hubungan itu dijalin dan kemudian
mewarnai variabel tergantung. Untuk lebih jelas mari kita lihat hubungan
hubungan tersebut dalam tabel berikut.
A. Hubungan simetris
1. Kedua variabel merupakan indikator untuk konsep yang
sama.
2. Kedua variabel merupakan akibat dari faktor yang
sama.
3. Kedua variabel berkaita secara fungsional.
4. Hubungan yang kebetulan semata-mata.
B. Hubungan timbal balik
C. Hubungan asimetris
1. Hubungan antara stimulus dan respons.
2. Hubngan antara dispisisi dan respons.
3. Hubngan antara ciri individu dan disposisi atau
tingkah laku.
4. Hubgan antara prekondisi dan akbibat tertentu.
5. Hubgan antara tujuan dan cara.
J. HIPOTESIS PENELITIAN
SOSIAL
Hipotesis secara
etimologis dibentuk dari dua kata yaitu kata hypo dan kata thesis. Hypo berarti
kurang dan thesis adalah pendapat
kemudia kedua kata ii digabung menjadi hypothesis dan di indonesiakan menjadi
hiotesis danegan arti suatu kesimpulan yang masih kurang, yang masih belum
sempurna. Pengertian ini kemudian di perluas dengan maksud sebagai kesimpulan
yang belum semurna,, sehingga perlu disemurnakan dengan mebuktikan kebenara
hiptoesis itu pembuktian itu hanya dapat dilakukan dengan menguji hipotesis
dengan data di langangan.[20]
Dalam merancang dan
membangun hipotesis, peneliti membutuhakn suber sumber inspirasi yang dapat
membantu dan meberi warna hiptesis yang dibangunya. Untukk diperolehnya suber
hpotesis, peneliti dapat saja mengacu pada teori yang telah mapan, yang
diperoleh dari studi kepustakaan. Dari teori teori mapan ini muncul banyak
suber hipotess daat saja hipotesis nya, memang demikian akan tetapi teori bukan
satu satunya suber hiptesis dapat saja hipotesis dibangun berdasarkan
pengamatan pengamatan yang sistematis melalui penelitian eksploratif atau bahan
bahan eksploratif yang idbuat oleh orang lain.
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan merangkum hasil
penelitian. Dalam kesimpulan tidaklah ditampilkan penjelaan rinci, tetapi
ditampilkan temuan-temuan yang penting, dan (bila ada) hubungan antara temuan
data dengan hipotesis. Kesimpulan berisi pernyataan apa yang sudah ditemukan
tentang objek yang diteliti dalam konteks kerangka teori. Ia tidak boleh
menyimpulkan sesuatu yang tidak diteliti dalam konteks dan jangkauan
penelitian. Kendala-kendala apa yang dihadapi dan saran-saran untuk menunjukan
cara mengatasinya
Saran
Dengan hadirnya makalah ini
sekiranya dapat berguna untuk kedepanya untuk lebih memahami lagi bagaimana
karakteristik dalam suatu penelitian. Saran yang dapat penulis sampaikan adalah
semoga buku ini dapat diterima di kalangan mahasiswa karena makalah ini dibuat
berdasarkan referensi yang ada di buku sehingga dapat dimuat di materi perkuliahan.
DAFTAR PUSTAKA
a b c d e f g h i j (Inggris)
Paul.D. Leedy and Jeanne.E. Ormrod. Practical
Research: Planning and Design
Research Edisi 8 [2005]. Ohio : Pearson
Merrill Prentice Hall. Page 156-209
a b c d e f Suharsimi Arikunto,
1993. Prosedur Penelitian, Suatu
Pendekatan Praktek. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta, hlm. 56-87
a b c d e f g Soedjono
Dirdjosisworo, 1998. Pengantar Ilmu Hukum.
Penerbit Rajawali.Jakarta, hlm. 34-98
a b c d Harsja Bachtiar, 1981. Penggolongan Ilmu Pengetahuan.
Depdikbud. Jakarta, hlm. 17-34
(Inggris)
Uma Sakaran, Research Methods for
Business: A Skill Building Approach, second edition, New York: John
Wiley& Sons, Inc, 1992, page. 4.
(Inggris)
Robert B. Burns, Introduction to Research
Methods, 4th Edition, French Forest NSW: Longman, 2000, page.3
(Inggris) L.R.Gay & P.L. Diehl,
Research Methods for Business and
Management, New York: MacMillan Publishing Company, 1992, page. 6
(Inggris)
Kenneth D. Bailey, Methods of Social
Research, Free Press: London, 1987, page. 4
(Inggris) L.R.Gay &
P.L. Diehl, Research Methods for Business
and Management, New York: MacMillan Publishing Company, 1992, page. 6
(Inggris) Jill Hussey & Roger
Hussey, Business Research: A Practical
Guide for Undergraduate and Postgraduate Students, London: MacMillan Press,
Ltd, 1997, page.1
Bungin
Burhan,2007.Penelitian Kualitatif:
Air langga University Press
Bungin burhan,2001. Metodologi Penelitian Sosial.surabaya: Air langga University Press
Miller, Katherine. 2001. Communication Theories: Perspectives,
Processes, and Contexts. New York: McGraw-Hill.
Miller, Katherine.1966.Communication Theories:
Perspectives, Processes, and Contexts
Robert K. Yin, 1989. Case Study Research : Design and Methods. SAGE Publications
Inc. California, London, New Delhi, page 45
Suyanto Bagong dan Sutinah,2005. Metodologi Penelitian Sosial Berbagai
alternatif pendekatan: Prenada Media
[1] ^
(Inggris) Uma Sakaran, Research Methods for Business: A Skill Building
Approach, second edition, New York: John Wiley& Sons, Inc, 1992, page. 4.
[2] ^
(Inggris) Robert B. Burns, Introduction to Research Methods, 4th Edition,
French Forest NSW: Longman, 2000, page.3
[3]
^ (Inggris) L.R.Gay & P.L. Diehl, Research Methods for Business and
Management, New York: MacMillan Publishing Company, 1992, page. 6
[4]
^ (Inggris) Kenneth D. Bailey, Methods of Social Research, Free Press:
London, 1987, page. 4
[5]
^ (Inggris) L.R.Gay & P.L. Diehl, Research Methods for Business and
Management, New York: MacMillan Publishing Company, 1992, page. 6
[6]
^ (Inggris) Jill Hussey & Roger Hussey, Business Research: A Practical
Guide for Undergraduate and Postgraduate Students, London: MacMillan Press,
Ltd, 1997, page.1
[7]
^ a b c d e f g h i j (Inggris) Paul.D. Leedy and Jeanne.E. Ormrod.
Practical Research: Planning and Design Research Edisi 8 [2005]. Ohio :
Pearson Merrill Prentice Hall. Page 156-209
[8]
^
a b c d e f Suharsimi Arikunto, 1993. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan
Praktek. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta, hlm. 56-87
[9]
^ a b c d e f g Soedjono Dirdjosisworo, 1998. Pengantar Ilmu Hukum.
Penerbit Rajawali.Jakarta, hlm. 34-98
[10]
^ Robert K. Yin, 1989. Case Study Research : Design and Methods. SAGE
Publications Inc. California, London, New Delhi, page 45
[11]
^ a b c d Harsja Bachtiar, 1981. Penggolongan Ilmu Pengetahuan. Depdikbud.
Jakarta, hlm. 17-34
[13]^Miller, Katherine. 2001. Communication Theories:
Perspectives, Processes, and Contexts. New York: McGraw-Hill.Page:20
[15]^Judul asli: Jenis-jenis dan Macam-macam Metodologi Penelitian



